MEMBANGUN TONGKONAN TO' PASA'

Ne' Taru/ Ne' Kada'ke'


Rapu tallang (anak-cucu) Ne' Taru (Kada'ke') dan Ne' Mine (Sulle) kurang lebih dua setengah tahun lalu menyepakati untuk membenahi tempat kelahiran/asal mereka di To' Pasa' Minanga dengan membangun sebuah rumah Toraja (Tongkonan). Sebuah rekening kemudian dibuka untuk menampung dana bersama yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Kurang lebih setahun kemudian dana yang terkumpul sudah cukup untuk membeli bahan-bahan awal yang diperlukan. Bahan tiang kemudian didatangkan dari wilayah Tompe Sulawesi Tengah yang diusahakan oleh ppk David. Ne' Lai, ppk Rance, dan ppk Rio kemudian ke Randan Batu untuk melihat rumah keluarga di sana untuk dijadikan model. Tukang yang mengerjakan rumah yang direncanakan juga adalah keluarga dari Randan Batu. Setelah kurang lebih dua tahun, pada saat ini rumah yang direncanakan tersebut sudah selesai berkat dukungan dari semua anggota keluarga besar Ne Taru dan Ne' Mine. Proses pembangunan disupervisi oleh Ne' Lai/Ne" Sepa.
Di bawah ini beberapa gambar tentang proses pembangunan rumah tongkonan tersebut.

Ne' Lai/Ne' Sepa yang tekun mensupervisi pembangunan Tongkonan To' Pasa'

Dibuat pondok sederhana (lantang) untuk menyimpan balok-balok untuk tiang yang baru saja didatangkan dari Palu Sulawesi Tengah


Balok-balok untuk tiang di dalam pondok sederhana di halaman To' Pasa'

Balok untuk tiang dan papan untuk dinding

Balok-balok untuk tiang dan papan untuk dinding ditumpuk di lantang kayu

Balok-balok dan papan

Balok dan papan di Lantang kayu

Lantang kayu dilihat dari jauh

Ne' Lai' menatap halaman dan lantang "Okko bende'......Kapan rumah yang direncanakan bisa jadi kalau begini?" katanya dalam hati.
Pembuatan Pondasi

Pondasi sudah jadi

Pondasi sudah jadi
Pembuatan tiang rumah - balok-balok diserut

Sebagian balok tiang sudah selesai diserut

Sebagian balok masih terus dikerjakan

Para tukang beristirahat sejenak - menikmati sambako

Pembuatan atap bambu
 ANAK ATAP DARI BAMBU

Pada suatu saat kunjungan saya ke To' Pasa' - saya lupa tanggal dan harinya - saya dan Ne' Lai berbincang-bincang tentang kegiatan kembangunan yang sedang berjalan, kami kemudian membicarakan atap yang akan digunakan. Kami kemudian berbincang-bincang tentang penggunaan atap dari seng dan "anak atap" yang dibuat dari papan yang dibuat sedemikian rupa sehingga kelihatan seakan-akan bambu. Saya kemudian sampaikan Ne' Lai', apakah mungkin kita buat atap dari bambu seperti layaknya rumah Toraja yang sebenarnya. Ne' Lai' kemudian mengatakan akan sangat sulit karena tidak ada lagi bambu di sekitar rumah. Kita caripun ke seluruh Tangti sudah akan sulit diperoleh karena tidak ada lagi orang yang memelihara bambu. Saya kemudian usulkan bagaimana kalau "anak papa" (anak atap)nya saja yang kita buat dari dari bambu sapaya sesuai aslinya. Karena sebenarnya dengan membuat "anak papa" dari kayu yang dibuat seakan-akan bambu sebenarnya kita membohongi diri sendiri. Lagi pula saya katakan "di kemudian hari kalau rumahnya sudah jadi, kita atau kau duduk-duduk di alang kemudian lihat-lihat atap rumahnya dan melihat "anak papa" dari kayu, mungkin kita akan mengatakan - kenna tallang ora dianakk papanni, tantu la'bi mellong". Kemudian saya lanjutkan "pada saat itu walaupun kita punya uang banyak, tentu tidak mungkin lagi kita bongkar rumahnya kembali untuk kita pasang "anak papa" dari bambu". Ne' Lai kemudian bilang, saya akan coba cek, apakah mungkin paling tidak "anak papa" kita buat dari bambu (tallang).

Rupanya Ne' Lai sangat terkesan dengan apa yang saya sampaikan itu, khususnya jangan sampai di kemudian hari kita menyesal bila "anak papa"nya tidak kita buat dari bambu, sehingga dengan segala cara dan dengan sekuat tenaga mencari bambu kesana kemari untuk dijadikan "anak papa". Ketika saya datang lagi berikutnya, saya sangat terkejut melihat bambu yang sudah bertumpuk di halaman, saya tidak menyangka bahwa Ne' Lai' akan membuat "anak papa" dari bambu. Menurut Ne' Lai' bambu-bambu yang digunakan itu adalah sumbangan dari sejumlah keluarga yang dengan senang hati memberikan bambunya untuk kita pakai. Tentu kita sangat bersyukur untuk itu dan berterima kasih kepada mereka. Dan itu mereka lakukan karena kecintaan mereka kepada Ne' Taru dan Ne' Mine dan kita "rapu tallangna". Mudah2an setiap kali mereka melewati To' Pasa' mereka akan mengatakan dalam hati  "itu rumah kita" sehingga To' Pasa akan menjadi Tongkonan semua to ma'rapu.

Penyiapan anak papa dari bambu

Atap bambu dijemur supaya kering betul


Atap bambu dikeringkan



Ne' Lai' dan Ndok Melkhy beristirahat

"Dadi-dadi siamo tinde jaman Ndok Melkhy.... ta melayo-layo opa sidi'!!!"

"Yo.... liu-liu siamo penaanta to Ne' Lai' sasba' randuk siamo ma'buyuran te jaman lako, .... pa tontong siaraka temai pia la ma' pa' peaa saba'... buda bangpa tu ladi jama lako...!!"

"Eleka Ndok Melkhy.....Kusanga la masannangmo Ne' Taru, Ne' Mine, Sindo', Sambe', ... Sia Mama' sola Papa' ... do mai to .... kenatiroi kumua situru' siaki solanasang to bati'na umpemelomeloi te inanna inde To' Pasa'"

"Tantu bangmo dukai to.... Ne' Lai'".

.


Dinding rumah diukir


Bagian depan sudah diukir - selanjutnya dicat

Sebagian dinding sudah dicat
ATAP SENG WARNA HIJAU

Suatu hari mamak Melkhy menelpon saya, bahwa rumah sudah siap dipasangi atap, "kami akan pergi membeli cat ke Makale supaya sebelum dipasang, atapnya dicat terlebih dahulu supaya lebih tahan" katanya. Saya kemudian sampaikan supaya warna cat yang digunakan supaya memilih warna hijau tua supaya lebih enak dipandang - tidak menyilaukan dan lebih serasi dengan lingkungan sekitar rumah yang hijau karena pepohonan. Al hasil rumah To' Pasa' lah rumah Toraja pertama di Toraja yang dicat warna hijau. Alasan lain pemilihan warna hijau adalah pantulan sinar matahari lebih sedikit sehingga tidak menimbulkan panas yang besar bagi lingkungan sekitar. Ketika saya kembali mengunjungai To' Pasa' ketika rumah sudah dipasangi atap Ne' Lai' mengatakan "Mellong ditiro tinde ca' ido dipakean banua - takua butung matangka ditiro". Saya sarankan alang yang kemudian akan kita bangun melengkapi bangunan To' Pasa' supaya menggunakan juga cat hijau tua seperti rumah sekarang ini, sehingga komplek To' Pasa' akan sejuk dipandang mata - tidak menyilaukan.

Atap rumah seng yang dicap hijau

Penyelesaian ujung atap bubungan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar